Aqu tak rela Mbak Indira jadi milik orang lain. Bokep rusia Setengah mati Bapak dan Ibu membujuk serta menghiburku. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya laki laki, jelas sekali kalo aqu sangat dimanja. Lidya hanya diam saja.“Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Amanda mengingatkan.“Iya, Tante”, sahutku.Dan memang tepat jam tujuh malam aqu datang ke rumah Lidya. Kali ini bukan hanya mengecup, namun dia melumat dan mengulumnya dgn penuhl gairah. Sedangkan aqu sendiri sama sekali tak peduli, tetap menganggapnya hanya kawan biasa saja. Namun tak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aqu sendiri. Sementara bagian bawah badanku semakin menegang serta berdenyut.Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaqu dgn suara tertahan akibat hembusan napasnya yg memburu seperti lokomotif tua. Sementara Tante Amanda pergi membawa Bobby, aqu dan Lidya duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yg menunggang kuda dgn gagah. Lidya mulai menciumi wajah dan leherku. Dia malah tersenyum. Aqu benci dgn semua orang yg bahagia melihat Mbak Indira diambil orang lain. Bahkan dia sering main ke rumahku, Bapak dan Ibu juga senang dan berharap Lidya bisa jadi kekasihku.Begitu juga dgn Mbak Lisa, sangat cocok sekali




















