“Ah.. Bokep rusia “Maaf, Ray.”
“Hanya maaf?” Gertakku sambil mengguncang kerah bajunya. Kalau kamu?” Chie menghela nafasnya. Nyaris saja kopi susu itu keluar dari mulutku dan membasahi foto copy makalah di atas meja. Dan entah kenapa pula aku mau melakukan hubungan seks itu dengan Chie. Si pemburu gadis-gadis perawan. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.“Ray…”
“Ada, pasti ada suatu saat nanti,” desahku. Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. Wajahnya terlihat berseri-seri, membuatku sedikit mendongkol karena masuk dalam jebakannya. Aku bukanlah seorang bodoh yang tak bisa membedakan perawan dengan tante-tante. Dan entah kenapa pula aku mau melakukan hubungan seks itu dengan Chie. Hahahaha…”
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. Jay menatap kerlipan lampu kota di bawah kaki kami. Keperawanan itu datang dari hati, bukan dari sekedar selaput dara ataupun yang biasa disebut orang-orang darah malam pengantin.”
Kunyalakan batang rokok di sudut bibirku. “Ray…”
“Ya?”
“Kukira aku sudah tidak perawan lagi…”Surabaya, Keesokan HarinyaKucengkeram kerah baju Jay dalam genggamanku, dan mengangkat kepalanya mendekatiku,
“Maksudmu apa?” desisku berang. Menghentikan lumatan bibirnya, menjatuhkan kepalanya di dadaku. Jay, sahabat terbaikku.Chie adalah gadis penuh pesona. Dari sudut mataku, kulihat gadis itu meringkuk di jok belakang.




















