Dgn pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Bau khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Bokep mom Kukecup-kecup terus kelentit yg tampak semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dgn kuat. Ia berdiri di depanku, tetap dgn sangat hormat. masih kecil banget, namun bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..Aku menelan ludah:
“bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke sini. Si Kartolo bajingan itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu.” Kulihat ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Wah, aku hampir terlonjak kaget. Kok susah ? Eh.. Suaraku penuh ketegasan namun juga bernada kuatir:
“Cah Sara, Cah Sara, kamu dalam bahaya besar. iya Kakek..” katanya bergetar:
“di pipis saya.. ”KARTOLO KEPARAT!” teriakku tiba-tiba. enakan sekarang..” aku hampir ketawa.Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau aku kerjain. dicium terus dijilatin”.Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela nafas seperti sedih dan terpaksa:
“ya sudah Cah Sara, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang, Kakek juga terpaksa harus melakukan yg sama. Aku sekarang dapat melihat wajahnya dgn jelas.




















