suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Aku tidak menjepit tubuhnya. Bokep china Dingin. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Napasnya tersengal. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Ia tepat berada di tengah-tengah. Ia tepat berada di tengah-tengah. Di mana? Tangannya halus. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Membuang napas. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Duduk di tepi dipan. Dadaku mulai berdegup lagi. Aku mengurungkan niatku. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Ah segar. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Alamak.., jauhnya. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Yes. Tidak akan hadir kesempatan ketiga.




















