Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Bokep indo “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Aku harus memulai. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Dan kubuka celana pantai. Inilah kesempatan itu. Apalagi yang dapat tertinggal? “Oh ya. Come on lets go! Ia tersenyum ramah. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Aku terlambat setengah jam. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Duduk di tepi dipan. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Aku menggelepar.“Sst..! Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Lalu asyik membuka tabloid. Atau apalah? Dadaku berguncang. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap




















