Itulah yang paling membuatku bingung.Hari itu aku belum berani untuk memberi tahu suamiku. Bokep Hijab Aku akhirnya menyediakan kondom untuk Eki kalau dia minta lobang pantatku. Aku tak berani menatap suamiku. Udah pakai kondom?”Eki mengangguk dan membuka risliting celananya. Aku segera meraih dasterku dan ikut menghampiri Eki.“Aduh, mas. Tangan Eki terdiam di atas perutku.“Ndun, gimana perasaanmu lihat ibu-ibu yang lagi bengkak-bengkak kayak aku?” tanyaku memecah kesunyian.“Saya suka sekali, Bu..” jawabnya.“Kenapa?”“Ibu jadi makin cantik.” jawabnya dengan muka memerah.“Ihh.. Tapi gak papa, aku tadi sempat tidur siang.”“Aku takut menganggu sekolahmu,”“Gak kok, Bu. Biar kalian dekat,” perutku terlihat sangat membuncit karena baju muslim yang kupakai hampir tidak muat menyembunyikan bengkaknya.Eki bergeser dan duduk di sebelahku. Aku mengarahkan tangan Eki untuk meremas-remas payudaraku lagi. Ohhh, lenguhnya kecewa. Ohh, apa yang bisa kulakukan?Di dalam kamar tangisanku pecah. Takutnya kalau positif.Hingga pada suatu pagi aku melakukan test kehamilan di kamar mandi. Yang kedua namanya Sangga, masih sekolah SMA kelas 2. Padahal aku sedang menunggu Eki yang sedang berusaha menyibak kerumunan menuju ke arah kami.Akhirnya Eki tiba di belakangku.




