Dari atas: Turun. Bokep india Sekali. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Di mana? Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Dari atas: Turun. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Atau mau gunting? Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.




















