Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Tercium aroma segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Bokep hijab indo Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal pahanya. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Karena gemas, kukecup berulang kali. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Telapak tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Sambil menatap pesona di depan mataku, aku menarik nafas dalam-dalam. Aku selalu duduk persis di depannya. Tak ada komentar penolakan. Tunjukkan bahwa betisku indah!”Aku mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Mbak Tia mengangguk. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa betah dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Aku tak ingin ada setetes pun yang terbuang. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona birahi.




















