“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Bokep indo Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Agar kejadian kemarin terulang. Kaki disandarkan di dinding. Masih menutupi diri dengan tabloid. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Ah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Dingin. Ia kerja di sana? Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Begini saja daripada repot-repot. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja.




















