Awalnya kami hanya berkeliling jalanan, hingga akhirnya singgah di sebuah warung untuk makan, “Aku yang traktir ya…” kata Rianti. Bokep jepang “Cari siapa ya?” seorang ibu-ibu terlihat dibalik pintu dan bertanya apa keperluanku. Tapi sangat sulit sekali, aku masih memikirkan kenangan kami, sia-sia sudah perjuanganku selama dua tahun. Tanpa terlihat seorangpun, kami berhasil keluar dari rumah ini, kami tidak mau langsung ke tempat usaha kami agar tidak dicurigai, jadi kami langsung ke warung kopi yang letaknya agak jauh dari sini.Sesampai di sana kami pun berbagi hasil curian, ada handphone, laptop, uang dan perhiasan. Dia menarik tangannya untuk lepas dari cengkramanku, “Aku tak mau berhubungan denganmu!” tegasnya tanpa mau melihat wajahku. Tapi setidaknya kami lebih aman, ayah Rianti sedang berdinas keluar kota, jadi di rumah ini hanya tinggal perempuan saja.Ada tiga kamar di sini, kami yang menggunakan penutup wajah yang seperti biasanya dipakai oleh perampok lainnya mencoba memasuki kamar pertama yang lebih besar dibanding kamar lainnya.




















