Kupanggil pelayan café untuk membayar minuman. Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, saat itu jam 1.30 Wibb. Bokep rusia Ramah coba-coba ingin merubah nasib menjual diri di café-café. Ramah kupeluk, kusayang, akhirnya Ramah mengalah memberikan rekamannya. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, saat itu jam 1.30 Wibb. kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi. Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubuhnya. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak bisa dituturkan. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut. Dengan keluguan Ramah banyak sekali para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. Ramah mulai buka cerita dengan sifat yang agak malu-malu, sambil mengatakan “bang cafenya sudah mau tutup kita cek in yo? katanya, ia bang.




















