Ia masih dingin tanpa ekspresi. Atau mau gunting? Bokep terbaru Tunggu apa lagi. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Dari perut turun ke paha. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ke bawah lagi: Tidak. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Ia kerja di sana? Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Ia memulai pijitan. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Lalu asyik membuka tabloid. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Kali ini dengan telapak tangan. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa aku berangkat. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ia malah melengos. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku.










