begitu bodohkah aku? Bokep china maaf..” Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. Nikmat, anganku semakin melayang. “Ray? lampunya..” Nia berkata setengah tertahan. mm.. Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar. Pathetic, untuk cowok sepertiku. Raayy!” seru gadis itu tak kalah sengit. “Aku sebenarnya juga mau.”
Wah, ini luar biasa, pikirku. Kembali menelentangkan tubuhku, menggenggam batang kemaluanku. Dapat kubayangkan hubungan persahabatan kompetitif antara Enni dan Nia, ahh.. “Hhh.. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. uhh.. Dalam kebingunganku, pinggul Nia terangkat menekan batang kemaluanku, membuatku sedikit mengerang. “Ray..” mendadak (seperti wanita pada umumnya) Nia menekan bahuku menjauh. “Ahh.. “Ha? Membayangkan memiliki seorang kekasih yang tak dapat kulepas lagi? duh..”
Kukenakan baju dan celanaku, melihatnya masih duduk di pojok kursi belakang tanpa pakaian dan menyilangkan tangannya di dada. Nia mengangkat kepalanya dan memandang ke bawah.




















